JAKARTA - Usia Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI pada Selasa, 19 April lalu, Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi mengungkapkan bahwa Pertamina tak lagi melakukan impor Solar sejak dua bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh menurunnya permintaan solar dari industri akibat melemahnya harga komoditas global.
Ternyata, selain pelemahan sektor industri dalam negeri, terdapat faktor lainnya yang menyebabkan Pertamina tak lagi melakukan impor solar. Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengungkapkan bahwa hal ini juga disebabkan oleh program B-20 (pencampuran biodiesel sebanyak 20 persen pada solar) yang baru saja dilaksanakan oleh pemerintah.[Baca juga: Sudirman Said Klaim Harga BBM Indonesia Sudah Rendah]
"Solar itu kan sekarang udah banyak di mix dengan FAME untuk membuat biosolar. Tahun ini saja kita akan menyerap hampir 2,9 juta kl untuk FAME. Itu membuat kita tidak perlu memproduksi solar terlalu banyak, tapi begitu dicampur, kan sekarang B-20," kata Wianda kepada Okezone di Jakarta.
Pencampuran solar dengan bahan bakar nabati ini, lanjutnya, berhasil menghemat produksi solar dalam negeri. Sehingga, besaran konsumsi solar pun dapat ditekan hingga 20 persen.
"Campuran 20 persen FAME itu membuat campuran produksi kita impas," ungkap Wianda.
Tak hanya itu, penurunan konsumsi ini juga disebabkan oleh penurunan penggunaan solar bersubsidi dari angkutan umum. Pasalnya, saat ini mobil angkutan barang sudah tak lagi menggunakan solar bersubsidi.
"Di sisi lain kita lihat sekarang penggunaan solar Bersubsidi itu lebih terbatas pada penggunaan angkutan-angkutan. Kalau untuk mobil barang itu sudah tidak banyak menggunakan solar subsidi," tukas Wianda.

