Senin, 30 Mei 2016

Alasan Pertamina Tak Impor Solar 2 Bulan Terakhir



JAKARTA - Usia Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI pada Selasa, 19 April lalu, Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi mengungkapkan bahwa Pertamina tak lagi melakukan impor Solar sejak dua bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh menurunnya permintaan solar dari industri akibat melemahnya harga komoditas global.
Ternyata, selain pelemahan sektor industri dalam negeri, terdapat faktor lainnya yang menyebabkan Pertamina tak lagi melakukan impor solar. Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengungkapkan bahwa hal ini juga disebabkan oleh program B-20 (pencampuran biodiesel sebanyak 20 persen pada solar) yang baru saja dilaksanakan oleh pemerintah.[Baca juga: Sudirman Said Klaim Harga BBM Indonesia Sudah Rendah]
"Solar itu kan sekarang udah banyak di mix dengan FAME untuk membuat biosolar. Tahun ini saja kita akan menyerap hampir 2,9 juta kl untuk FAME. Itu membuat kita tidak perlu memproduksi solar terlalu banyak, tapi begitu dicampur, kan sekarang B-20," kata Wianda kepada Okezone di Jakarta.
Pencampuran solar dengan bahan bakar nabati ini, lanjutnya, berhasil menghemat produksi solar dalam negeri. Sehingga, besaran konsumsi solar pun dapat ditekan hingga 20 persen.
"Campuran 20 persen FAME itu membuat campuran produksi kita impas," ungkap Wianda.
Tak hanya itu, penurunan konsumsi ini juga disebabkan oleh penurunan penggunaan solar bersubsidi dari angkutan umum. Pasalnya, saat ini mobil angkutan barang sudah tak lagi menggunakan solar bersubsidi.
"Di sisi lain kita lihat sekarang penggunaan solar Bersubsidi itu lebih terbatas pada penggunaan angkutan-angkutan. Kalau untuk mobil barang itu sudah tidak banyak menggunakan solar subsidi," tukas Wianda.
(rzy)

Harga Pertamax Cs Turun Rp300



JAKARTA - Hari ini PT Pertamina (Persero) menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex dan Pertalite hingga Rp300 per liter. Penurunan harga Pertamax cs tersebut berlaku sejak pukul 00.00 WIB tadi.
Untuk Pertamax, harga per liternya turun Rp200 untuk seluruh provinsi di Pulau Jawa, Madura, dan Bali, dan Rp300 per liter untuk daerah lainnya. Sementara, Pertamax Plus penurunan Rp200 per liter diberlakukan untuk wilayah Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, sedangkan wilayah lainnya turun Rp300 per liter.
"Sebagai contoh, Pertamax di Surabaya turun dari semula Rp7.650 per liter menjadi Rp7.450 per liter, sedangkan Pertamax di Kalimantan Timur turun dari Rp8.000 per liter menjadi Rp7.700 per liter. Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya Pertamax dibanderol Rp7.350 per liter dari semula Rp7.550 per liter," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/5/2016).
Kemudian untuk, Pertamina Dex jumlah penurunannya seragam sebesar Rp300 per liter untuk semua wilayah yang telah tersedia bahan bakar dengan spesifikasi Euro 4 tersebut. Dexlite yang baru diluncurkan Pertamina baru-baru ini kini ditetapkan dengan harga Rp6.650 per liter.
Sementara itu, harga Pertalite rata-rata turun sebesar Rp200 per liter di seluruh daerah. Pertalite di Papua yang semula dijual seharga Rp7.300 per liter, kini dijual di level Rp7.100 per liter. Lalu untuk Solar/Biosolar non subsidi juga mengalami penurunan sebesar Rp300 per liter. Untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten BBM jenis tersebut turun dari Rp6.950 liter menjadi Rp 6.650 per liternya.
Wianda mengatakan, penurunan harga Pertamax cs tersebut merupakan hasil review yang dilakukan Pertamina secara berkala dengan menimbang pergerakan harga minyak dunia. Selain itu penurunan harga Pertamax cs tersebut juga dipandang sebagai apresiasi dari masyarakat yang mulai meninggalkan BBM bersubsidi.
"Kami sangat mengapresiasi konsumen BBK Pertamina yang pada musim liburan akhir pekan lalu konsumsinya melonjak hingga 30 persen yang menunjukkan masyarakat konsumen semakin memliki kesadaran akan kesesuaian spesifikasi bahan bakar dengan kendaraannya dan didukung oleh ketersediaan produk Pertamina yang semakin meluas. Kini, selain karena rendahnya harga minyak, langkah penurunan harga BBK Pertamina ini dapat dianggap sebagai wujud apresiasi perusahaan kepada konsumen,” katanya
Lebih lanjut Wianda menyatakan untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi, Pertamina akan secara ketat memantau ketersediaan stok BBM Umum tersebut di tingkat SPBU. Pertamina, katanya, akan terus mengupayakan untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat dan memastikan tidak akan ada kekosongan produk di SPBU.
"Dengan harga yang turun, konsumsi biasanya meningkat dan untuk memastikan masyarakat dapat terlayani Pertamina telah instruksikan seluruh SPBU untuk menyiapkan stok dengan cukup," tandasnya. (DNG)
(rai)

Sabtu, 09 April 2016

HARGA BBM INFO

TEMPO.COJakarta - Pemerintah memutuskan menurunkan harga bahan bakar minyak bersubsidi sebesar Rp 500 per liter. Hal itu diambil setelah menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, hari ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan